Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 16 April 2013

Strategi Pemasaran yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Janelle Brarlow dan Diana Maul dalam buku mereka Emotional Value: Crreating Strong Brand with Your Customer mengatakan bahwa banyak pelanggan pada saat ini tidak lagi terlalu memperhatiakan sebuah service atau nilai produknya, tetapi sebuah nilai tambah secara emosional antara penjual dan pembeli.

Sikap jujur adalah inti dari nilai tambah dan pengalaman lebih yang akan ditawarkan. Sebaik apapun value yang ditawarkan akan tetapi tidak dibarengi kejujuran akan menjadi sia-sia. Muhammad, sebelum memulai kariernya sebagai seorang pengusaha, beliau telah lama dikenal sebagai seorang yang terpercaya oleh semua orang Sikap tersebut selalu melekat hingga beliau berbisnis. Sikap jujur yang menjadi dasar kegiatan dan ucapan beliau secara otomatis membuahkan kepercayaan jangka panjang dari semua orang yang bertransaksi kepada beliau (long term relationship based on trust). Sikap jujur adalah kunci utama dari kepercayaan pelanggan bukanlah sesuatu yang diciptakan, tetapi kepercayaan adalah sesuatu yang dilahirkan.

Dalam strategi bisnisnya Muhammad selalu menekankan pada sikap profesionalisme dalam pekerjaan, the righ man on the righ job menjadi inti dalam sikap professional. Sikap ini menjauhkan dari sifat malas, tidak mau berusaha dan hannya menerima tanpa ada usaha untuk menuju kearah yang lebih baik.
Profesionalisme seseorang terlihat dari kematangan dan kemampuan skill yang dimiliki dalam menjalankan sebuah usaha. Nabi Muhammad bersabda, “Apabila amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya, berkata seseorang: bagaiman caranya menyia-nyiakan amanat ya rasulullah? Bersabda rasulullah: apabila diserahkan pekerjaan pada yang bukan ahlinya maka tunggulah masa kehancuran”(HR. Bukhari)
Muhammad bersabda, “yang terbaik diantara kalian adalah yang tidak mengabaikan dunia demi mengejar akhirat, atau mengejar akhirat demi mengehar dunia ini dan tidak menjadi beban bagi orang lain”. Penekanan pada “tidak menjadi beban untuk orang lain” memicu sikap untuk terus berusaha mengejar cita-cita atau target yang diinginkan, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam melakukan usaha haruslah dibarengi dengan sikap profesioanal atau disertai dengan skill sesuai dengan bidang masing-masing. Sehingga dalam menjalankan sebuah usaha seseorang akan lebih terarah, efektif, dan efisien.

silaturahim pada dasarnya adalah formula untuk menjaga hubungan baik sesama manusia,lingkungan, makhluk hidup yang lain, dan tentu tidak kalah pentingnya hubungan manusia dengan Tuhannya. Silaturahim mampu membuat kita membentuk komunikasi dua arah dan pada akhirnya akan mampu mengetahui dan memahami apa-apa yang menjadi kebutuhan pelanggan.
Selain itu akan memudahkan kita dalam melakukan kegiatan usah karena pada dasarnya silaturahim juga merupaka upaya membangun link dan networking yang bisa bekerjasama dalam menjalankan usaha.
Good-will relationship management (GRM) parameter yang dijadikan untuk mengukur konsumen adalah mengacu pada jaringan silaturahim yang mereka miliki berbeda dengan Customer Relationship Manajement (CRM) dimana profitabilitas dijadikan parameter untuk mengukur konsumen sehingga memungkinkan akan adanya konsumen yang tereliminasi karena kendala faktor kapital. Dengan penerapan GRM tidak akan ada konsumen yang tersisihkan hanya karena faktor kapital.
Philip Kotler dalam bukunya, Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi Dan Pengendalian, menulikan bahwa ada tahap-tahap tertentu terjadi kesalahan pembelian. Kesalahan dalam hal ini mengacu pada ketidakpuasan pascapembelian yang mungkin akan muncul adanya rasa kekecewaan konsumen yang berujung rusaknya integritas perusahaan. Dengan adanya silaturahim mampu memperkecil kemungkinan kejadian tersebut terjadi karena terjadi hubungan yang baik antara pemasar dan konsumen atau pelanggan.

terkadang setelah mendapatkan kesetiaan pelanggan, sebuah perusahaan cendrung memanfaatkan kesetiaan tersebut untuk memperoleh keuntungan yang lebuh banyak. Contoh kecil kita lihat banyaknya bank-bank di Indonesia yang mengeluarkan kartu kredit tanpa menghiraukan seruan Bank Indonesia tentang pembatasan jumlah kartu kredit yang beredar, dilihat dari sisi corporate sesungguhnya ini adalah pembodohan kepada pelanggan walaupun kerangka dasarnya adalah ingin memanjakan pelanggan.
Kemasan yang menarik, undian berhadiah, bonus-bonus, ini adalah senjata untuk menarik dan memprtahankan pelanggan. Faktanya ternyata nihil.
Perusahaan-perusahaan tersebut berdalih dengan cara memudahkan pelanggan bagi sebagian customer malah menjerat kedalam jebakan hutang. Bank-bank atau perusahan tersebut tak pernah memperhatikan ketidaksiapan konsumen yang belum mampu bersikap bijak dalam membelanjakan hartanya konsumen.
Muhammad SAW disisi lain bersabda,” kamu lebih mengetahui duniamu daripada aku.” Hal ini menegaskan, walaupun telah mendapat total trust dari pelanggan, Muhammad tidak pernah menawarkan semua jenis produk atau menjanjikan semua solusi untuk semua orang. Murah hati yang membentuk marketing, itulah salah satu cara Muhammad siapapun dari melakukan sikap pembodohan dan pemanfaatan.

Menghadapi "Tantangan Sosial"


Ada  berbagai macam tantangan sosial yang sering kita hadapi dalam lingkungan Manajemen Sumber Daya Manusia, diantaranya :
Tantangan Keberagaman SDM
Banyaknya keberagaman yang ada di Indonesia merupakan salah satu tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh semua orang, khususnya kita yang ingin menjadi Sumber Daya Manusia yang kompetitif dan berkualitas. Misalnya saja jika kita berada di dalam sebuah tim di suatu perusahaan, dan didalam tim kita tersebut, pastinya masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, nah disinilah letak permasalahannya yang harus kita hadapi yaitu, bagaimana membuat kerjasama yang baik, kompak, agar tercapai tujuan yang diahrapkan. Dalam menyikapi perbedaan tersebut tentunya kita harus profesional dalam bertindak. Tidak membeda-bedakan dan harus adil.

 Tantangan Teknologi
Semakin maju dunia ini, maka semakin maju pula teknologi yang diciptakan oleh para ahli  untuk membantu mempermudah pekerjaan manusia. Misalnya saja dalam dunia telekomunikasi, yang dulunya handphone merupakan barang yang langka dan “wah”yang hanya dimiliki oleh orang-orang “berduit”, tapi sekarang mustahil rasanya kalau didalam satu keluarga tak ada yang memiliki handphone. Begitu pula dengan fungsi handphone itu sendiri, yang awalnya diciptakan hanya untuk telepon & mengrim SMS saja, sekarang handphone mulai berevolusi menjadi smartphone yang memiliki lebih banyak fungsi, mulai dari mengirim e-mail, mengerjakan tugas kantor/kuliah, chatting, browsing, sebagai peta, dll. Nah dengan kemajuan teknologi tersebut, mau tidak mau kita harus ikut ambil dalam kemajuan tersebut, jangan sampai kita menjadi orang “gaptek” yang tdak mengerti dengan kecanggihan teknologi yang ada. Misalnya jika kita melamar di sebuah perusahaan . paling tidak kita harus mengetahui dan mempelajari teknologi apa yang digunakan perusahaan tersebut dalam kegiatan operasionalnya.

Tantangan Ekonomi
Di negara berkembang seperti Indonesia ini, naik turunnya tingkat inflasi akan amat sangat berdampak bagi tinggi rendahnya pengangguran di Indonesia. Ini dikarenakan, jika harga-harga barang kebutuhan naik, maka permintaan terhadap barang-barang tersebut akan turun, dan akan mengakibatkan berkurangnya jumlah produksi serta mengurangi pendapatan dari perusahaan, dan biasanya untuk menutupi kerugian di perusahaan, para pemilik perusahaan akan melakukan tindakan Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK kepada sejumlah karyawannya. Biasanya PHK di berikan kepada karyawan yang produktifitasnya rendah. Sedangkan bagi karyawan yang memiliki produktifitas dan loyalitas yang tinggi kepada perusahaan, kemungkinan besar akan tetap dipertahankan. Nah disinilah tantangan yang perlu kita hadapi yang disebabkan oleh kacaunya perekonomian disebuah negara. Jika kita ternasuk dalam kategori yang tidak di PHK, maka bersyukur lah kita dan sebaiknya hal tersebut dijadikan motivasi untuk lebih profesional dan produktif lagi dalam memajukan perusahaan tempat kita bekerja. Sedangkan jika kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang di PHK, ada baiknya kita berintrospeksi diri,dan merenungkan mengapa kita menjadi salah satu bagian dari orang yang terkena PHK. Akan tetapi jika kita memang SDM yang berkualitas seharusnya kita tidak terlalu lama bersedih, karena waktu itu terus berputar dan perut itu membutuhkan sesuap nasi agar otak kita mampu berfikir lebih jernih. Jadi jika kita harus bangkit dan mencari solusi, disinilah potensi diri kita di ukur. Sejauh mana kita bisa bertahan dengan keadaan ekonomi yang kacau  balau tersebut.

Tantangan Pemerintah
Jika dilihat dari sistim pemerintahaan kita yang menganut sistim presidensil, alias dimana kekuasan suatu negara dipegang penuh oleh presiden. Tantangan berat itu terletak pada kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Misalnya saja, jika kita ingin melamar menjadi Calon PNS (Pegawai Negeri Sipil) disalah satu department pemerintah, banyaknya syarat & test seleksi yang diajukan amat sangat rumit, mulai dari seleksi administrasi yang ketat, test kesehatan, tes psikotest, tes wawasan, dan biasanya tinggi badan pun tak luput dari seleksi tersebut, ini memeang akan menjadi boomerang bagi mereka yang tidak biasa berepot-repot mengurus berkas-berkas administrasi yang begitu ruwet, akan tetapi, tanpa kita sadari, pada saat itulah kita bisa mengukur sejauh mana kemampuan kita dalam menghadapi dan melakoni sebegitu banyaknya test dan persyaratan yang diajukan.
Bagi kalian yang terbiasa bersusah-susah dan mempunyai jiwa optimis yang tinggi, maka berbangga hati lah kalian, karena biasanya orang-orang yang seperti itulah yang akan lolos seleksi dengan predikat “jujur”. Akan tetapi, sebaliknya, jika kalian termasuk orang yang ingin gampangnya aja, alias ambil jalan pintas, maka bersiap-siaplah mendapat gelar “calon koruptor”, mengapa demikian ?? karena biasanya orang-orang yang seperti itulah yang akan membawa bangsa ini kedalam jurang kehancuran.

Jadi ada baiknya kalau kita menghadapi segala macam tantangan dengan jiwa optimistis dan profesional. karena hanya dengan sifat itulah kita mampu bersaing dengan segala macam tantangan yang menghalangi jalan kita dalam mencapai kesuksesan yang ingin kita capai.

Arti dari rasa "Syukur" & "Kesetiaan"

“Bersyukur” satu kata yang dapat saya ambil dari apa yang saya pelajari hari ini, ternyata dari satu kata tersebut banyak pelajaran yang bisa dipetik dan memacu diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terkadang tanpa kita sadari, setiap harinya banyak hal yang selalu kita keluhkan, baik itu dari segi ekonomi, transportasi, pendidikan, lifestyle, dll. Padahal jauh dibelahan bumi yang lain, masih banyak orang-orang yang keadaannya amat sangat memprihatinkan. 

Apa yang telah kita dapati hari ini, patutnya kita syukuri, karena itu menandakan, Sang Maha Kuasa, masih mengizinkan kita untuk menikmati apa yang telah Ia ciptakan. Terkadang kita memang merasa selalu kekurangan, dan tak pernah puas terhadap apa yang telah kita dapatkan, bahkan terkadang kita juga sempat merasa bahwa Yang Maha Kuasa tidak adil kepada kita, padahal sebenarnya kita perlu intropeksi diri, dan menanyakan kepada diri kita sendiri apakah usaha kita telah maksimal untuk mencapai apa yang kita inginkan. Kita juga harus intropeksi diri, apakah kita sudah berbuat baik terhadap lingkungan sekitar atau belum.

Misalnya saja di dalam kehidupan sehari-hari, jika kita menginginkan suatu barang hendaknya kita fikirkan masak-masak, apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan untuk menunjang produktivitas kita atau hanya menunjang gaya hidup dan gengsi semata saja. Mengapa demikian ??? karena, jika barang yang kita beli ternyata tidak berguna banyak bagi kehidupan kita, atau bahkan sampai tak ada gunanya bagi kita, itu sama saja kita telah menghamburkan-hamburkan uang hanya untuk kepuasan kita saja, padahal jika kita menengok ke sekitar kita, masih banyak orang-orang yang dengan bersusaha payah membanting tulang hanya untuk sesuap nasi. Sedangkan kita dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang yang telah kita dapatkan hanya untuk memenuhi sifat konsumerisme kita semat.  Harusnya kita bersyukur kepada Sang Maha Pemberi Rizki, atas rizki yang telah diberikan kepada kita, dengan cara berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Hal tersebut jauh lebih bermanfaat ketimbang harus menghamburkan uang untuk membeli sesuat yang belum tentu benar-benar kita perlukan.

Selain “bersyukur” ada pelajaran lain yang dapat diambil, yaitu kesetiaan seorang anjing / peliharaan yang lainnya, Terlepas dari pandangan orang-orang bahwa anjing itu najis, haram, kotor, dan yang lainnya, tetapi kesetiaan dan loyalitas seorang anjing terhadap pemiliknya perlulah kita contoh. Misalnya saja, seekor anjing yang telah lama dipelihara dan sudah dianggap sebagai bagian dari anggota keluarga, jika dibuang dipinggir jalan atau ditempat yang jauh sekalipun, anjing itu pasti akan kembali lagi.

Kisah anjing tersebut, sebenarnya dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saja, jika kita mempunyai usaha yang bergerak dalam bidang industri, dan mempekerjakan beberapa karyawan, setidaknya sebagai seorang pemimpin kita harus loyal terhadap bawahan kita, misalnya saja dengan memberikan tunjangan hari raya / bonus kepada karyawan kita yang memiliki prestasi yang dapat membantu  produktivitas dan kemajuan perusahaan. Selain itu dengan memberikan hak-hak para karyawan dan menghargai mereka sebagai partner kerja, dan bukan semata-mata sebagai budak yang diperas tenaganya saja, tanpa memeberikan hak-hak mereka sepenuhnya.